Monday, February 23, 2015

Reading Challenge 2015 Master Post

Memasuki tahun 2015, dan sejalan dengan resolusi baca buku tahun 2015 yang gak seberapa itu :D, taun ini saya bergabung lagi dengan reading challenge (RC) yang di-host teman-teman sesama blogger buku. Walaupun di tahun lalu RC saya "jongkok" semua alias kacrut (kecuali goodreads reading challenge, satu-satunya yang berhasil saya penuhi :D). Tahun ini saya nggak ikut banyak-banyak RC, yang penting bisa dijabanin :D dan mudah-mudahan lancar, konsisten sampai akhir tahun, aamiin.


Picture taken from here


1. New Authors Reading Challenge 2015 (NARC)

RC ini di-host oleh Ren, teman BBI yang sudah langganan nge-host NARC ini dari tahun ke tahun. RC ini fokus di buku karya pengarang baru yang belum pernah dibaca sebelumnya. Untuk tahun ini ada perbedaan NARC dibanding tahun sebelumnya, yaitu adanya kategori tambahan :

a. What's in a Name: Baca buku karya pengarang baru dengan nama tokoh di judulnya. Baca minimal 6 (enam) judul buku dalam setahun.

b. Genre 101 : Baca buku karya pengarang baru dengan genre - genre ini. Silakan pilih minimal 12 (dua belas) genre dan baca minimal 1 (satu) judul buku untuk tiap genre yang dipilih. Maksimal genre yang diambil dan buku yang dibaca tiap genrenya tidak dibatasi.

Jenis genre:
Fantasy, Contemporary Romance, Thriller, New Adult, Religion/Spiritual,  Erotica, Asian Lit, History (boleh fiction ataupun romance), Urban Fantasy, Children Lit, Mystery/Crime, Steampunk, Humor, Sport, Young Adult, Science Fiction, Paranormal Romance, LGBT, Horror, Dystopia,  Holiday, Classic, Chiclit, Music, Travel, Biography, Adventure, Women Fiction.

Total minimal buku yang dibaca: 12 (dua belas) buku

c. Girl Power! : Baca buku karya pengarang baru dengan karakter utama wanita yang kuat, mandiri, cerdas, well, silakan tentukan karakteristik tokoh utama yang masuk dalam kategori ini ;). Baca minimal 6 (enam) judul buku dalam setahun.

d. Ebook Lover: Untuk kamu yang pecinta ebook. Baca minimal 6 (enam) judul buku karya pengarang baru dengan format ebook dalam setahun.

e. Series Addict: Yang ingin mencoba seri buku baru. Baca minimal 6 (enam) judul buku yang merupakan buku pertama dari seri karya pengarang baru dalam setahun. Terkait dengan kategori ini, tetap mengacu ke rules no 7 :). Hanya buku pertama saja dari seri oleh pengarang yang berbeda yang dibaca ^^. Semoga jelas yaaa

f. Support Local Author: Mari baca buku karya pengarang baru dari negara kita tercinta, Indonesia! :D Baca minimal 6 (enam) judul buku dalam setahun
Nah, untuk NARC ini saya mengambil level Easy (1-15 buku) dengan kategori tambahan Ebook Lover dan Support Local Author.

http://renslittlecorner.blogspot.com/2015/01/new-authors-reading-challenge-2015.html



2. 2015 TBRR Pile Reading Challenge

RC kedua yang saya ikuti adalah To-Be-Read-and-Review (TBRR) Pile Reading Challenge yang di-host oleh Mbak Inge. Ini maksudnya adalah dalam rangka membabat timbunan saya yang sebenarnya ndak seberapa itu dibandingkan dengan suhu-suhu blogger buku lainnya. Walaupun hanya "segitu" itupun nggak habis-habis dan malah cenderung tertimbun tambah tinggi :D Dasar emang suka gak nahan beli buku baru.

RC ini bertujuan membaca buku-buku yang ada dalam timbunan kita. Buku yang dibaca adalah buku terbitan tahun 2014 ke bawah. Jadi buku yang terbit tahun ini tidak dihitung.

http://bacaaninge.blogspot.com/2015/01/2015-tbrr-pile-reading-challenge.html


Jadiiii...itulah daftar RC yang saya ikuti tahun ini di luar RC Goodreads. Semoga tahun ini jagat perbacaan berpihak pada saya, sehingga bisa memperbaiki kekacrutan tahun sebelumnya :D.


post signature

Saturday, February 7, 2015

Book Review : Walking After You


Judul : Walking After You
Pengarang : Windry Ramadhina
Bahasa : Indonesia
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 328 halaman
Format : Paperback
Diterbitkan pertama kali : 13 Desember 2014


Masa lalu akan tetap ada. Kau tidak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.

Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali kepadanya.

An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang tak bisa ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkan kau merasa seperti itu? Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka.

Mungkin, kisah An seperti kisahmu.
Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

Setelah sekian lama lebih banyak membaca buku luar atau terjemahan, ini adalah novel karya pengarang lokal pertama yang kembali saya baca. Saya memilih buku Windry Ramadhina karena rekomendasi rekan-rekan yang sudah membacanya, dan menurut mereka buku-buku Windry termasuk bagus.

Lalu bagaimana kesan saya setelah menyelesaikan buku ini? Sebagaimana banyak reviewer di Goodreads menuliskan kesan mereka : manis, manis, manis dan hangat. Ini adalah kisah yang manis, saya menikmati membuka setiap lembarnya dan merasakan hangat di dalam hati saat membacanya. Di beberapa bagian membuat saya tersenyum, di bagian lain saya turut merasakan pilu dan rasa bersalah dari masa lalu yang menghantui tokoh utamanya.

Ini adalah cerita tentang Anise (An), satu dari dua bersaudara kembar yang hidupnya terus-menerus dihantui rasa bersalah dari kecelakaan yang menimpa mereka dan merenggut nyawa Arlet, saudara kembarnya. Rasa bersalah itu membuat An melepaskan impiannya menjadi koki masakan Italia dan memilih mewujudkan impian saudara kembarnya untuk menjadi koki kue. Keadaan kian rumit karena An dan Arlet jatuh cinta kepada lelaki yang sama.

Novel ini adalah tentang bagaimana melepaskan masa lalu. Bukan dengan melupakannya, tapi dengan menerima dan memaafkan diri sendiri. Karena hanya dengan cara itu kita bisa melangkah maju menuju masa depan.

Tokoh favorit saya? Ooww...tentu saja Julian. Koki kue di Afternoon Tea, atasan An, yang bertampang dan bertingkah seperti tokoh-tokoh cowok di Drama Korea; yang kelewat serius, suka marah-marah, hobi menyembunyikan perasaan, tapi sebenarnya punya hati yang manis sekaliiiiii... :D

Saya menyukai cara bertutur Windry Ramadhina dalam buku ini, menggunakan bahasa Indonesia yang baku. Terus terang saya lebih menyukai cerita yang ditulis dengan Bahasa Indonesia baku daripada yang bertaburan bahasa gaul macam "gue" atau "loe". Mungkin saja selera saya itu dipengaruhi dari latar belakang yang tidak berasal dari ibu kota, sehingga bahasa-bahasa gaul Jakarta itu terasa sedikit aneh di telinga saya. :D

Setelah membaca buku ini, saya jadi tertarik untuk membaca buku Windry yang lain. Untuk Walking After You, saya memberikan rating empat bintang.

Review ini diikutkan sebagai bagian New Author Reading Challenge 2015 kategori Support Local Author.

Wednesday, January 7, 2015

Happy New (Reading) Year 2015

Original artwork by Grace Ahmed.

2014 was a good reading year for me. Ada beberapa hal baik yang terjadi di tahun 2014, dan saya bersyukur karenanya. :)

1. Tahun 2014 adalah tahun saya mulai serius membaca buku setelah lama meninggalkan kebiasaan ini dan beralih ke majalah/tabloid, film, dan hobi-hobi saya yang lainnya (kebanyakan hobi sih sebenernya, tapi kurang waktu :D).

2. I completed my 2014 Goodreads reading challenge! Woohoo! Nggak banyak sih, tapi lumayan lah untuk saya memulai lagi. Ada 14 buku yang selesai saya baca dan saya review. Reading challenge ini adalah resolusi tahun 2014 saya yang berhasil dicapai, di antara resolusi-resolusi lain yang kacrut dan bubar jalan. :D

3. Saya membuat blog khusus buku ini di akhir tahun 2013, jadi hitung saja sebagai pencapaian tahun 2014 ya :D dan walaupun sempat angin-anginan, alhamdulillah lumayan terisi postingannya dibanding blog yang satunya lagi, yang mungkin sudah mulai lumutan. :D

4. Resmi terdaftar sebagai anggota komunitas Blog Buku Indonesia (BBI) setelah berproses selama hampir setahun :D. Sungguh menyenangkan bergabung dengan komunitas yang isinya pecinta buku semua ini (literally, I mean). Walaupun ada potensi risiko yang mengiringi, yaitu risiko menambah timbunan (buku), karena sejauh saya mengamati selama ini, rata-rata member BBI itu punya hobi menimbun. :D

Dan untuk tahun 2015, ada beberapa hal yang ingin saya lakukan :

1. Ikutan reading challenge lagi tentunya. Tahun ini saya mengikuti reading challenge Goodreads lagi, dan satu reading challenge dari sesama rekan BBI. Target Goodreads reading challenge tahun ini saya naikkan menjadi 30 buku. Targetnya tidak muluk-muluk, sembari mengukur kemampuan, itu juga sudah dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Makanya saya salut pada teman-teman yang target RC nya segunung dan berhasil tercapai. *nyembah* sama suhu-suhu BBI yang target RC nya sampai 100 buku

2. Membuat review dari buku-buku yang saya baca. Bacanya sih enak, bikin reviu-nya yang kadang harus menunggu hidayah :D

3. Membaca lebih banyak buku Bahasa Inggris. Tahun lalu saya berhasil membaca sampai selesai sekaligus mereview beberapa buku berbahasa Inggris. Tahun ini saya ingin menambah jumlahnya. Walaupun kadang harus tertatih-tatih sambil buka-buka kamus :D

4. Membaca lebih banyak ebook. Ini dalam rangka mengurangi timbunan paperback yang sudah kehabisan tempat di rumah. Tahun kemarin saya mulai membaca dalam format ebook, dan "Eh, ternyata enak juga baca ebook." Jadi keterusan deh.

5. Mulai menulis cerita saya sendiri. Ini cita-cita jaman katrok yang hanya jadi wacana saja dan belum pernah terealisasi. Ya, paling tidak masuk dalam resolusi tiap tahun lah, minimal ada niatnya dulu :D

dan yang terakhir,

6. Walaupun tidak ada hubungan langsung dengan buku, di tahun 2015 ini saya ingin menjadi istri, ibu, dan orang yang lebih baik lagi secara fisik dan mental (maksudnya, secara pembawaan pribadi dan sikap budi pekerti) :D 

Semoga tahun 2015 menjadi tahun yang berlimpah keberkahan bagi kita semua. 




Happy New (Reading) Year 2015!


post signature

Sunday, January 4, 2015

Book Review : Where'd You Go Bernadette


Judul : Where'd You Go, Bernadette

Penulis : Maria Semple
Bahasa : Inggris
Penerbit : Back Bay Books
Tebal : 326 halaman
Format : Ebook
Diterbitkan pertama kali : 2013


The first annoying thing is how, anytime I ask Dad what he thinks happened to Mom, he always says, "The most important thing is for you to understand it's not your fault." You'll notice that wasn't even the question. When I press him, he says the second annoying thing, "The truth is complicated. There's no way anyone can ever completely know everything about another person."

Mom disappears into thin air two days before Christmas without telling me? Of course it's complicated. Just because it's complicated, just because you think you can't ever know another person completely, it doesn't mean you can't try.

It doesn't mean I can't try.

Review 

Where'd You Go Bernadette adalah buku terakhir yang saya baca di tahun 2014 sekaligus penutup Goodreads Reading Challenge, yang alhamdulillah biar targetnya cuman dikit tapi completed. Yang berat adalah ngumpulin niat buat ngereviu. :D

Where'd You Go Bernadette bertutur tidak dengan narasi novel pada umumnya, melainkan melalui serangkaian email, surat, artikel, memo dan korespondensi lainnya. Seperti Every Boy's Got One-nya Meg Cabot yang bercerita melalui Blackberry dan PDA.

Meet Bernadette Fox, arsitek pemenang penghargaan yang tinggal bersama suaminya, Elgin Branch, jenius pemimpin project besar di Microsoft, dan Bee Branch, anak perempuan remaja mereka - juga jenius - yang duduk di tahun terakhir menjelang kelulusan sekolah Galer Street. Meskipun arsitek pemenang penghargaan, namun mereka tinggal di rumah tua bobrok.

Sebagai orang tua Bee yang notabene merupakan siswa Galer Street, Bernadette tidak rukun dengan ibu-ibu orang tua murid lainnya, saking sebalnya dia bahkan menjuluki mereka sebagai "gnats" karena menurutnya “they’re annoying, but not so annoying that you actually want to spend valuable energy on them.” 

Kecenderungannya menghindari orang-orang ternyata tidak hanya untuk ibu-ibu Galer Street saja. Bernadette juga menghindari orang-orang lainnya. Bernadette mengidap agoraphobia, yaitu phobia yang ditandai dengan kecenderungan seseorang menghindari tempat terbuka atau tempat publik dan pertemuan dengan orang-orang.

Bee Branch, yang akan lulus dari Galer Street dengan nilai sangat memuaskan, dan berencana melanjutkan ke sekolah asrama eksklusif Choate, meminta "hadiah" kepada kedua orangtuanya, yaitu perjalanan wisata keluarga ke Antartika. Perjalanan itu sendiri mendatangkan masalah bagi Bernadette yang tidak menyukai travelling dan cenderung menghindari pertemuan dengan orang lain. Bahkan saking tidak sukanya harus berurusan dengan orang lain, untuk keperluan sehari-hari (sampai memesan makanan, membeli pakaian, membayar tagihan) dan termasuk untuk mempersiapkan tetek bengek perjalanan itu, Bernadette mempekerjakan virtual assistant di Delhi, India (Bernadette tinggal di Seattle!) untuk mengurus semuanya.

Masalah Bernadette tidak hanya itu. Audrey Griffin, tetangga sekaligus "musuh bebuyutan" yang juga tokoh ibu-ibu Galer Street (tipe yang banyak terlibat dengan komunitas orang tua, aktif di kegiatan sekolah) selalu membuat masalah dengannya (kalau dalam versi Audrey, Bernadette lah si pembuat masalah). Perseteruan dengan Audrey menjadi kian runyam ketika lereng bukit rumah Bernadette longsor menimbun rumah Audrey tepat ketika Audrey menjadi tuan rumah acara penting pertemuan orang tua murid Galer Street.

Puncaknya adalah ketika Elgin Branch (Elgie) suaminya merasa kelakuan Bernadette sudah kelewatan. Elgie curiga istrinya menderita masalah psikologis, ia kemudian meminta bantuan psikiater. 

Dalam kecarut-marutan itu, Bernadette menghilang, lenyap tak diketahui rimbanya. Bee kemudian berusaha menyusun kepingan puzzle dari surat-surat, email, artikel dan dokumen yang didapatnya, dengan satu tujuan : mencari ibunya.

Penulisan dengan naskah berbentuk susunan surat/korespondensi semacam ini dikenal dengan epistolary. Keuntungan Maria Semple menyusun novel dengan format demikian adalah penulis dapat bercerita dari berbagai sudut pandang tergantung siapa karakter yang saat itu sedang bertutur melalui surat. Walaupun demikian, tidak seluruh buku ini ditulis dalam bentuk epistolary, karena bagian akhir buku ini kembali pada format penulisan konvensional.
Where'd You Go Bernadette menjadi unik karena sifat eksentrik Bernadette itu sendiri, yang quirky, blak-blakan dan cenderung satir. Walau demikian satirisme itu ditulis dengan kocak dan menghibur. :D

Setting yang melatari buku ini juga cukup luas dan beragam, mulai dari kota Seattle, Antartika, hal-hal terkait arsitektur, sampai penggambaran Maria Semple tentang Microsoft yang cukup detil membuat saya berpikir, kalau bukan pengalaman pribadi penulisnya, pasti ia melakukan banyak riset untuk menulis buku ini.


Bernadette, diambil dari website penulisnya. Jadi pingin punya boneka ini :D

Buku yang ngehits dan mendapat banyak ulasan baik ini memang menarik. Tapi ada bagian yang membuat saya 'ngambek' dan sempat malas meneruskan membaca (dan menurunkan ratingnya versi saya) yaitu di bagian Elgie punya affair dengan wanita lain. Bisa-bisanya gitu loh, apalagi si perempuan yang jadi selingkuhan itu 'enggak banget' menurut saya. Gak ngerti deh, apa yang dilihat Elgie dari cewek itu *sebel* :(. 

I found it quirky, satire, humorous, a fun to read. Overall, it's a good read. Untuk buku ini saya memberikan rating tiga setengah bintang.


Friday, December 19, 2014

Book Review : Fortunately, The Milk


Judul : Fortunately, The Milk

Pengarang : Neil Gaiman, Skottie Young (US Version) / Chris Riddle (UK Version)
Bahasa : Inggris
Penerbit : HarperCollins
Tebal : 114 halaman
Format : Ebook
Diterbitkan pertama kali : September 2013
Genre : Children Literature


"I bought the milk," said my father. "I walked out of the corner shop, and heard a noise like this: T h u m m t h u m m. I looked up and saw a huge silver disc hovering in the air above Marshall Road."

"Hullo," I said to myself. "That's not something you see every day. And then something odd happened."

Review :

Membaca buku ini, banyak 'pertama kali' nya bagi saya. Pertama kalinya saya membaca buku Neil Gaiman, pertama kalinya saya membaca buku dalam format ebook dan berhasil menyelesaikannya, dan pertama kalinya saya membaca buku anak setelah sekian lama (lupa kapan terakhir baca buku kategori children literature).

Cerita bermula ketika Ibu (Mum) harus meninggalkan rumah selama beberapa hari untuk menghadiri konferensi. Selayaknya Ibu yang hendak meninggalkan keluarganya selama beberapa lama, tentunya banyak pesan-pesan sponsor yang dititipkan pada Ayah (Dad) terkait urusan rumah dan anak-anak (makan, les, kunci cadangan, tukang ledeng) I heart you, Muuum... Samaaa kaya sini tiap kali mo dines luar kota, pesan sponsornya udah kaya mo bikin surat wasiat XD. Selayaknya Ayah yang umumnya nggak gitu ngeh sama hal begituan, menyimaknya pun setengah hati sambil baca koran. Walhasil pesan sponsor yang diserap pun akhirnya nggak seratus persen (I heart you too on this part, Mum -__-). Ayah melupakan bagian akhir : susu sudah hampir habis.

Ketika anak-anak akan sarapan keesokan harinya, mereka baru menyadari kehabisan susu, dan tidak mungkin makan sereal tanpa susu. Waktu anak-anak menyampaikan ini pada Ayah, jawaban Ayah bikin gedubrak :

"We can't eat our cereal," said my sister, sadly.

"I don't see why not," said my father. "We've got plenty of cereal. There's Toastios and there's muesli. We have bowls. We have spoons. Spoons are excellent. Sort of like forks, only not as stabby."

:D Ini tipe Ayah yang suka ngejeplak ngomong apa aja sesuka hatinya. Plis dong Pak, gak bisa makannya tu karena gak punya susu...

Ketika anak-anaknya berkata bahwa tidak-bisa-sarapannya itu karena tidak adanya susu, Ayah terlihat nyaris menyarankan sarapan yang lain saja, yang tidak perlu pakai susu, contohnya sosis. Sampai Ayah tiba-tiba tersadar...

...then he looked like he remembered that, without milk, he couldn't have his tea. He had his "no tea" face.

Saya jadi berpikir bahwa keluarga ini tinggal di Inggris atau keluarga asal Inggris, karena kebiasaan minum teh nya, apalagi pada laki-laki. Dimana umumnya wajah garing para pria di belahan bumi lain baru muncul kalau tak ada kopi, tapi di sini ekspresi merana itu muncul tatkala tak ada teh.


Tradisi tea time di Inggris yang elegan dengan cangkir klasik motif floral, kue-kue manis, dan tak lupa teh serta susu. Picture taken from here.

Dan mengalahlah sang Ayah. :D Keluarlah ia untuk membeli susu. Sementara anak-anaknya menunggu... menunggu.. dan menunggu.. sampai akhirnya sang Ayah nongol kembali di hadapan mereka. Anak-anak yang bete pun bertanya kemana saja Ayah mereka selama ini? Dan jawaban Ayah adalah blurp yang tertulis di atas tadi :

"I bought the milk," said my father. "I walked out of the corner shop, and heard a noise like this: T h u m m t h u m m. I looked up and saw a huge silver disc hovering in the air above Marshall Road."

"Hullo," I said to myself. "That's not something you see every day. And then something odd happened."

Well, something ODDER happened. Ayah bercerita apa yang dia alami selama "menghilang" untuk membeli susu. Cerita yang melibatkan alien, dinosaurus, bajak laut, manusia purba, vampir dan mesin waktu. Semuanya dilalui Ayah demi membawa pulang susu ke rumah. Dan di setiap bagian cerita, tak lupa Ayah selalu berkata...

"Fortunately, I had kept tight hold of the milk..."

Bener-bener kalimat itu sepanjang cerita tidak pernah lupa dilupakan. Jadi sang Ayah selalu menegaskan bahwa si susu aman dan menempel terus padanya. Walaupun ada sih, saat dimana Ayah benar-benar kehilangan susu itu. :D

Fortunately, The Milk bertutur tentang petualangan yang dilewati Ayah dalam perjuangan untuk membawakan susu bagi anak-anaknya. Petualangan yang ajaib, absurd, dan penuh kejutan.

Saya suka dengan karakter Ayah di sini, jago ngeles, banyak akal dan kocak, tapi cool. Anak-anaknya mengimbangi karakter Ayah mereka dengan tetap realistis, logis, dan (sedikit) sarkastis.

Cerita mengalir dengan menarik dan happy ending (iya, si botol susu dan isinya, plus yang membawanya - Ayah, akhirnya sampai ke rumah dengan selamat). Fortunately, The Milk juga diperkaya dengan ilustrasi keren. Ada dua versi ilustrasi buku, versi US dikerjakan oleh Skottie Young, dan versi UK oleh Chris Riddle. Yang saya baca adalah versinya Skottie Young. Saya tidak terlalu paham seni, dan tidak tahu jenis gaya gambar yang dianut Young, tapi gaya gambarnya yang tidak "biasa" bagi saya tetap keren, membuat buku ini tampil "beda" dan saya sangat menyukainya.

Meet the awesome Dad and his children. :)

Banyak hal-hal kocak yang saya temui dalam buku ini, seperti istilah-istilah aneh yang digunakan Profesor Stegosaurus untuk menamai benda-benda, contohnya balon udara dia sebut dengan Floaty-Ball-Person-Carrier dan buah kelapa dengan hard-hairy-wet-white-crunchers :D. Ada juga momen dimana ke-absurd-an cerita ayahnya sudah mengarah jadi mustahil, seperti adanya piranha di tengah lautan, yang langsung disela sang anak :

"Hang on," I said. "Piranhas are a freshwater fish. What were they doing in the sea?"

:D

Dan klimaksnya, benarkah apa yang diceritakan Ayah? Sungguhkah semua hal absurd itu benar-benar terjadi? Bagaimana bila Ayah membawa bukti untuk semua ceritanya? 

Anda akan menemukannya di akhir buku ini. ;)

Secara keseluruhan saya sangat menikmati dan terhibur dengan buku ini. Tidak terlalu tebal, tapi menarik. Walaupun genre nya children literature, buku ini bisa diterima semua kalangan yang menyukai cerita imajinatif, ringan dan kocak. Anda bisa membacanya bersama putra-putri Anda, atau membaca untuk diri Anda sendiri, tetap menghibur. Untuk Fortunately, The Milk saya memberikan rating empat bintang.

Jadi kepingin baca buku Neil Gaiman yang lain. Ada saran? ;)