Tuesday, September 23, 2014

Book Review : A Perfect Proposal

 
Judul : A Perfect Proposal
Pengarang : Katie Fforde
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal : 413 halaman
Diterbitkan pertama kali : 2011
Format : Paperback
Target : Dewasa
Genre : Romance
 
 
 
Hidup Sophie akan berubah selamanya...
 
Buku ini tentang? 
Kisah seorang gadis muda Inggris, Sophie Apperly, yang tumbuh sebagai anak bungsu di keluarga akademisi (ayah, ibu dan kakak-kakaknya), dan menjadi satu-satunya anggota keluarga non akademisi (bahkan tidak kuliah). Kecintaan Sophie bukan pada bidang akademis melainkan pada jahit-menjahit, merombak pakaian loak, mendandani barang lama menjadi seperti baru, pokoknya pada hal-hal yang oleh keluarga besarnya dianggap tak berguna.

Karena profesi sebagai akademisi tak mendatangkan banyak uang, maka keluarga Sophie hidup pas-pasan (nyaris miskin) walaupun mereka tinggal dalam rumah besar. Dalam buku ini dituturkan kisah Sophie yang "diumpankan" keluarganya untuk mengurus seorang kerabat (Paman Eric) yang kaya raya, tua, tak menikah dan tak memiliki ahli waris, dengan demikian keluarganya berharap agar mereka bisa mendapatkan warisan melalui Sophie. Sophie yang tulus dan periang segera membuat Paman Eric jatuh hati (walaupun tetap pelit padanya) dan menceritakan soal hak-hak pengeboran yang dimiliki keluarga mereka dari jaman dahulu namun kini terpecah belah karena tidak ada yang berusaha mengumpulkan hak-hak itu. Paman Eric menceritakan tentang kerabat yang menjadi kunci pengumpulan hak-hak itu saat ini ada di Amerika.

Pada saat yang bersamaan, Sophie mendapatkan pekerjaan di Amerika melalui sahabatnya Milly yang tinggal di New York. Pekerjaan sebagai nanny (yang dikecam keras oleh keluarga besarnya), namun Sophie berharap pekerjaan itu bisa membuatnya mencari tahu tentang kerabat di Amerika yang mengumpulkan hak-hak pengeboran.

Tanpa diduga, setibanya di Amerika keluarga yang akan mempekerjakannya tiba-tiba membatalkan secara sepihak. Akibatnya Sophie jadi luntang-lantung tanpa pekerjaan jelas dan hanya menumpang di apartemen Milly. Pada suatu momen ketika Sophie mengikuti pameran di tempat kerja Milly, Sophie bertemu dengan Matilda, seorang nenek kaya raya yang berasal Inggris dan cucu pengacaranya yang angkuh, Luke.

Matilda dengan segera jatuh hati pada Sophie yang tulus dan ceria (dan asal Inggris!), sementara Luke penuh prasangka dan curiga bahwa Sophie hanya akan memanfaatkan neneknya dan harta bendanya. Matilda kemudian mengundang Sophie ke rumah mewahnya di Connecticut untuk merayakan Thanksgiving bersama keluarganya, dan cerita pun bergulir di seputar lika-liku komedi romansa antara Sophie, gadis periang, gigih, dan super pengiritan (karena miskin) dan Luke yang menawan, angkuh, kaya raya dan tak pernah memusingkan soal uang.

Mengapa memilih buku ini?
A Perfect Proposal adalah buku Katie Fforde kedua yang saya baca setelah Summer of Love. Cerita khas Katie Fforde yang ringan, ceria dan khas chicklit, cocok dijadikan bacaan ringan sambil duduk santai di sofa dan ngemil, jenis bacaan yang bisa dibaca sambil lalu dan tidak perlu berpikir keras :D. Buat saya ini jalan keluar yang manis setelah a hectic week at work. Soalnya kalau habis melalui minggu yang penuh perjuangan trus diakhiri dengan buku-buku Pramoedya Ananta Toer, misalnya, rasanya bisa bikin kram otak. :D

Hal yang disukai dari buku ini?
Ringan, manis dan menyenangkan untuk teman bersantai. And it always have a happy ending. Tokoh-tokoh utamanya khas chicklit, muda, modern, dan masa kini, terasa dekat dengan dengan kehidupan sehari-hari.

Saya menyukai bagian dimana dompet Luke hilang di Inggris dan dia terpaksa hidup menumpang sepenuhnya pada Sophie yang selalu kekurangan uang. Luke terpaksa mengikuti gaya hidup Sophie yang super irit, berdesakan naik kendaraan umum kemana-mana, makan fish and chips melempem dan roti bekal yang dibawa dari rumah, serta (yang paling parah) memakai pakaian yang dibeli di toko loak. :D

Hal yang kurang disukai dari buku ini?
Tipikal ceritanya tidak terlalu berbeda novel Katie Fforde sebelumnya yang nyiklit banget. Kalau anda adalah penggemar cerita dengan alur yang bervariatif, anda akan lekas bosan membaca buku ini. Kemudian ada beberapa konten mengenai hak-hak pengeboran yang lumayan berat dan tidak dijelaskan secara detail sehingga saya juga tidak terlalu paham menangkap maksudnya. Mungkin kurang lebih maksudnya adalah warisan hak sebagai pemilik tanah yang di bawahnya terdapat berliter-liter galon minyak bumi siap dibor, tapi karena tidak dijelaskan lebih lanjut jadi ya tema hak-hak pengeboran itu hanya sekedar sambil lalu saja. Intinya Sophie berjuang untuk memperoleh hak-hak pengeboran itu, dia berhasil mendapatkannya (dengan bantuan banyak pihak, terutama Luke tentunya!) dan sebagai imbalannya dia menjadi kaya raya, sumber minyak bumi gitu loh.

Ada lagi bagian dimana Sophie dan Luke berselisih paham karena Ali (karyawan Luke yang cantik, elegan dan sempurna dan bersikap seolah-olah dia pacar Luke), bahkan Ali menggelapkan uang yang dikirim Sophie untuk membayar jasa profesional Luke, namun tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana nasib Ali selanjutnya setelah Luke menyadari hal tersebut. Sebagai pembenci tokoh antagonis :D kan ingin rasanya melihat bagaimana Luke mendamprat atau bahkan mengusir Ali dan membuatnya patah hati mutlak setelah sempat memporakporandakan hidup Sophie. :D

Karakter favorit:
Sophie Apperly. Sifatnya yang tulus, periang dan jago pengiritan, serta kesukaannya menjahit dan merombak barang lama menjadi baru (secara saya sendiri juga suka hal-hal yang berbau handmade).

Berapa bintang:
Ceritanya ringan, cukup menghibur, cocok dijadikan bacaan wiken yang santai dan bisa dibaca sambil lalu. Saya cukup menikmati buku ini dan memberikan rating tiga setengah bintang.

post signature

Saturday, March 8, 2014

Book Review : Summer of Love







Judul : Summer of Love 
Pengarang : Katie Fforde
 Bahasa : Indonesia 
Penerbit : Elex Media Komputindo  
Tebal : 498 halaman  
Diterbitkan pertama kali : 2011 
Format : Paperback 
Target : Dewasa
Genre : Romance

 
Siapa yang tahu apa saja yang bisa terjadi di musim panas yang penuh cinta?

Buku ini tentang?  
Summer of Love bercerita tentang Sian Bishop, ibu muda dengan seorang anak lelaki, orang tua tunggal, yang meninggalkan keramaian London untuk pindah ke sebuah desa kecil yang indah. Di desa tersebut Sian menemukan kehidupan yang menyenangkan untuknya dan putranya, sebuah rumah cantik untuk disewa dengan harga yang terjangkau, sekolah yang bagus untuk putranya, pekerjaan dan sahabat baru yang disukainya : Fiona Matcham.

Sampai pada suatu sore sebuah topan mengguncangkan kehidupan Sian yang damai, Gus Berresford yang tiba-tiba muncul di hadapannya setelah bertahun-tahun seolah lenyap ditelan bumi. Hidup Sian pun seperti jungkir balik, sebagaimana hatinya, mengetahui bahwa ia masih mencintai laki-laki itu setelah sekian lama berlalu. Kedatangan Gus membawa berbagai masalah bagi Sian, yang harus dihadapi dan diselesaikannya, walaupun ia tak tahu bagaimana caranya.

Mengapa memilih buku ini?
Ini adalah buku Katie Fforde pertama yang saya baca. Saya membeli karena tertarik dengan kavernya dan beberapa komentar di bagian belakang buku. Waktu itu saya memang mencari bacaan ringan yang menyenangkan, setelah sebelumnya menyelesaikan buku yang temanya lumayan berat.

Hal yang disukai dari buku ini?
Summer of Love berkisah tentang kisah cinta yang hangat dan romantis, dan berakhir bahagia. Saya menikmati ceritanya yang ringan, yang berkisah tentang kehidupan Sian yang teratur sebagai seorang ibu muda (sedikit mirip dengan kehidupan saya sebagai ibu dari seorang putri, walaupun saya bukan orang tua tunggal).

Buku ini banyak memasukkan hal-hal yang berhubungan dengan memasak dan makanan, yang mana keduanya adalah hal yang saya sukai sehingga saya menikmati semua paragraf yang berhubungan dengan kedua hal tersebut. :D Saya sampai membayangkan bagaimana rasanya mengadakan pesta makan malam dan mengorganisir piknik.

Saya juga menyukai hal-hal tentang kemping dan "bertahan hidup di dunia luar" yang banyak ditunjukkan Gus di sini, di antaranya menunjukkan bagaimana caranya membuat api.

Saya juga menyukai bagian cerita tentang Fiona Matcham, terutama setelah dia menyadari kebodohannya dan memilih orang yang tepat untuk berkencan.

Hal yang kurang disukai dari buku ini?
Alurnya berjalan lambat dan cenderung datar dengan cerita seputar kehidupan Sian dan Fiona. Tapi saya rasa memang rata-rata buku romance comedy / chicklit ditulis dengan cara demikian, karena pembacanya memang mencari bacaan ringan yang tidak menguras energi pikiran saat membacanya.

Karakter favorit:
Fiona Matcham. Fiona adalah seorang wanita yang saya perkirakan berusia 50-an namun berjiwa muda, agak eksentrik, percaya diri dan cenderung bicara dengan spontan. Fiona yang telah berpisah dari suami keduanya dan memiliki anak-anak yang telah tumbuh dewasa, dikisahkan ingin merasakan kembali romantisme cinta. Secara tidak sengaja kesempatan untuk itu terbuka ketika seorang sahabat lamanya mendaftarkannya ke situs kencan internet. Dan mulailah Fiona menjalani dari satu kencan ke kencan yang lain, kemudian di antaranya menemukan seseorang yang tidak diduganya ternyata mampu memberikan apa yang diinginkannya.

Saya menyukai cara berpikir Fiona yang blak-blakan, sikapnya yang terbuka, gayanya yang muda, kepandaiannya memasak (terbukti dengan pesta makan malam yang mengagumkan!) dan kasih sayangnya pada Sian dan putranya. Dialog-dialog Fiona meskipun blak-blakan dan sarat humor namun menunjukkan bahwa apa yang dipikirkannya sebenarnya adalah hal-hal yang baik untuk orang-orang yang dia cintai. Di akhir cerita, Fiona-lah yang membukakan mata Sian dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki hidupnya.

Karakter yang kurang disukai:
Melissa Lewis-Jones. Gadis cantik super kaya yang tampak seperti model katalog gaun Boden dan menaruh minat pada Gus. Klasik sih, penggambaran karakter antagonis saingan tokoh utama seperti ini umum dijumpai di cerita-cerita dengan genre romance. Melissa yang manja dan keras kepala, yang selalu harus dipenuhi semua keinginannya. Hal yang paling membuat sebal adalah ketika Melissa memaksa membeli rumah yang disewa Sian karena ia telah jatuh hati pada pondok itu dan ingin tinggal di situ.

Walaupun begitu, secara keseluruhan sebenarnya Melissa tidak seburuk itu. Ia tidak pernah memusuhi Sian. Tukang pamer memang iya, tapi ia tidak menganggap Sian sebagai orang yang menyebalkan, walaupun Sian menganggapnya demikian terutama karena persoalan Gus. Melissa justru mencarikan pekerjaan untuk Sian melalui orang tuanya dan tanpa Sian sadari telah memberikan bantuan yang sangat penting bagi Gus.

Kurang adil juga menaruhnya di tempat karakter yang kurang disukai lantaran saya tidak terlalu gak-suka-suka-amat :D tapi karena di antara karakter-karakter lain dialah yang paling bertingkah menyebalkan, ya apa boleh buat. Tapi di akhir cerita, saya rasa saya mulai menyukainya. :)

Buku ini direkomendasikan bagi:
Jika anda mencari bacaan ringan yang menghibur, untuk teman bergelung di sofa atau sambil ngemil, tentang kisah cinta manis yang berakhir bahagia, ini adalah buku yang dapat anda pilih.

Jika anda adalah seorang penggemar cerita yang beralur dinamis atau cerita yang menuturkan alur dan konflik dengan lebih dalam, bisa jadi anda merasa cepat bosan membaca buku ini.

Berapa bintang:
Karena saya memang mencari bacaan ringan yang menghibur, maka buku ini cukup memenuhi keinginan. Setelah menyelesaikan buku ini sepertinya saya akan mencari buku Katie Fforde yang lain. Saya cukup menikmati tulisannya dalam Summer of Love ini dan memberikan rating tiga setengah bintang. :)

Review ini diikutkan dalam kategori Cover Lust :


http://perpuskecil.wordpress.com/2013/11/12/lucky-no-14-reading-challenge/


Dan diikutkan pula dalam New Authors Reading Challenge :


http://renslittlecorner.blogspot.com/2014/01/new-authors-reading-challenge-2014.html

post signature

Saturday, March 1, 2014

January & February Update : New Author Reading Challenge 2014

Ah, tak terasa sudah dua bulan berlalu di tahun 2014 ya, dan ini sudah masuk bulan ketiga. Selamat bulan Maret untuk semuanya, semoga menjadi bulan yang menyenangkan dan bermanfaat bagi kita semua. :)

Tahun 2014 ini adalah tahun dengan banyak hal-hal baru bagi saya, salah satu di antaranya adalah lahirnya blog ini, blog khusus tentang buku-buku yang saya baca. Sebagaimana telah saya tulis sebelumnya, di tahun ini saya kembali menggiatkan hobi lama yaitu membaca buku dan bergabung dengan beberapa Reading Challenge (RC).

Salah satu reading challenge yang saya ikuti adalah New Author Reading Challenge yang dihost oleh Ren. Dalam RC ini, para partisipan diminta mengupdate progress RC-nya setiap dua bulan, yang jatuh pada bulan Februari. Jadi, saya akan posting update progress saya di RC ini.

Sepanjang bulan Januari saya menyelesaikan dua buku untuk RC ini, yaitu :
The Kitchen House (Kathleen Grissom/2010), reviewnya ada di sini.
The Chocolate Thief (Laura Florand/2013), reviewnya ada di sini.

Sedangkan untuk bulan Februari saya tidak menyelesaikan buku untuk RC ini. Ada sih buku yang selesai dibaca dan direview, tapi karena bukan New Author jadi tidak memenuhi syarat untuk RC ini.

Sekian dulu update progress Januari dan Februari, terima kasih untuk Ren yang sudah berbaik hati menjadi host RC yang memotivasi ini. Semoga ke depan saya bisa membaca lebih banyak lagi buku untuk kategori New Author Reading Challenge. :)



post signature

Monday, February 24, 2014

Book Review : Anak Semua Bangsa

 
Judul : Anak Semua Bangsa 
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer 
Bahasa : Indonesia 
Penerbit : Lentera Dipantara 
Tebal : 536 halaman
 Diterbitkan pertama kali : 1980 (Hasta Mitra) 
Format : Paperback 
Target : Dewasa 
Genre : Roman sejarah

"Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Di mana pun ada yang mulia dan jahat. Kau sudah lupa kiranya, Nak, yang kolonial selalu iblis. Tak ada yang kolonial pernah mengindahkan kepentingan bangsamu."

Anak Semua Bangsa, adalah roman kedua dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Tidaklah berlebihan rasanya bila penerbit Lentera Dipantara menyatakannya sebagai Sumbangan Indonesia untuk Dunia.

Ketiga roman pertama Tetralogi Buru (termasuk Anak Semua Bangsa) menempatkan Minke, seorang Pribumi terpelajar lulusan HBS sebagai tokoh utama. Minke adalah gambaran pemuda Pribumi yang selalu dilanda kegelisahan akan nasib bangsanya sebagai bangsa jajahan, kegelisahan yang dilandasi nurani kemanusiaan yang pada akhirnya menjadi landasan berpikir dan bertindak: karena dan untuk bangsanya.

Kalau roman bagian pertama, Bumi Manusia, merupakan periode penyemaian dan kegelisahan, maka roman bagian kedua ini, Anak Semua Bangsa, adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah Pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa. Dalam Anak Semua Bangsa, Minke dihadapkan antara kekaguman pada peradaban Eropa dan kenyataan di lingkungan bangsanya yang kerdil. Sejak kedatangan Khouw Ah Soe seorang aktivis pergerakan Tionghoa, surat-surat keluarga De la Croix, teman Eropanya yang liberal, dan khotbah politik Nyai Ontosoroh, mertua sekaligus guru agungnya, kesadaran Minke tergugat, tergurah, dan tergugah. (Lentera Dipantara)

Roman ini sarat akan pesan dan pengajaran tentang nasionalisme dan humanisme, terutama tentang kepedulian dan kecintaan terhadap bangsa sendiri. Berlatar belakang Indonesia di akhir abad 19, setting dibangun dengan gambaran yang detail baik dari latar cerita, kebiasaan, maupun budaya dan pola pikir pada zaman tersebut. Indonesia, yang dalam buku ini disebut sebagai Hindia Belanda, diceritakan masih dalam masa kolonialisme sebagai bangsa terjajah. Pribumi terutama golongan lemah adalah pihak yang paling tidak berdaya menghadapi dua penjajahan sekaligus, yakni penjajahan dari Belanda kolonial dan penjajahan dari raja-raja Pribumi sendiri yang dalam masa itu berada di bawah lambang Bupati, Pangreh Praja dan aparat-aparat pemerintahan tradisional Jawa lainnya.

Minke pasca kepergian Annelies istrinya, dalam buku ini dikisahkan mulai berusaha turun gunung untuk mengenal bangsanya. Tuduhan sahabat-sahabatnya bahwa Minke tak mengenal bangsa sendiri, karena ia hanya mau menulis dalam Belanda, enggan menulis dalam Melayu, bahasa yang notabene dikuasai oleh sebagian besar bangsanya dibandingkan dengan Belanda yang terbatas penggunanya. 

Minke dalam upayanya turun gunung, kemudian mengenal kehidupan tertindas petani gula yang dalam cerita ini diwujudkan melalui sosok Trunodongso. Petani dengan sawah seluas lima bahu, namun hidup dalam kekurangan dan penindasan karena tanah warisan yang dimilikinya direbut paksa oleh pabrik gula. Pabrik gula dalam kisah ini merupakan perwujudan penguasa dan penjajah baru dalam jaman modern, yaitu deretan angka bernama modal.

Penyaksian diri Minke atas ketidakberdayaan Trunodongso dalam menghadapi rakusnya pabrik gula mencaploki tanah petani, pengetahuannya akan kisah Surati - gadis muda yang dijual ayahnya kepada Belanda penguasa pabrik gula hanya untuk menyelamatkan jabatan sang ayah selaku juru bayar pabrik, surat-suratnya dengan keluarga De la Croix yang brilian, penuh dengan pemikiran jaman baru yang kritis, kemudian perbincangannya bersama Ter Haar, teman Eropa yang liberal dan mengajarkan Minke tentang nasionalisme dan memetik pengalaman dari berbagai bangsa-bangsa dunia. Dan yang terakhir, pelajaran kehidupan dari Nyai Ontosoroh, mertuanya, seorang perempuan Pribumi yang berdiri tegak menentang Eropa dan kolonialismenya dengan segala keberanian, kegigihan, kerja keras, wibawa dan kecerdasannya. 

Semua pemikiran, ketidakberdayaan, dan kegelisahan itu diceritakan sambung-menyambung dari satu guru dan pengalaman ke guru dan pengalaman lainnya, terus menumpahi Minke tanpa memberinya jeda, yang pada akhirnya mengubah pandangan Minke tentang hidup itu sendiri. Sebagaimana dikatakan Kommer, salah seorang sahabatnya, "Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir."

Minke pun mulai menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan dan kegelisahan. Mulai ada sesuatu yang bangkit dari dalam dirinya, nasionalisme dan kemanusiaan yang semakin kuat untuk melawan kekuatan penjajah kolonialisme, yang didasari atas satu alasan : karena dan untuk bangsanya.

Cerita berjalan relatif lambat, karena banyak di antara bagian buku hanya menceritakan pemikiran Minke sendiri. Pemikiran yang mengembara, menemukan informasi, mencerna kemudian memproses menjadi sebuah kesimpulan, di mana bagian ini hanya terjadi dalam kepala Minke, sehingga seolah waktu berhenti untuk beberapa lama karena yang dilakukan pembaca hanya mengikuti alur pikiran Minke dan berusaha untuk memahami. Namun demikian karena tema dan penulisan yang menarik, yang membawa saya tenggelam dalam kalimat-kalimatnya, maka alur yang lambat itu tidak menjadi masalah.

Tokoh favorit saya dalam buku ini, tentu saja, Nyai Ontosoroh. Perempuan pribumi terpelajar yang seorang diri menentang ketidakadilan kulit putih yang menempatkan Pribumi dan bangsa kulit berwarna sebagai warga negara dunia kelas dua. Nyai Ontosoroh adalah guru Minke dalam kehidupan, mengajarkan kepada Minke banyak hal, pendapat, pertimbangan dan sudut pandang yang tidak diperoleh Minke dari orang lain apalagi dari sekolah, dengan begitu maka Nyai Ontosoroh banyak memberikan pengaruh pada Minke. Sosok Nyai Ontosoroh ini diceritakan maju melampaui jamannya, bahkan di jaman sekarang pun tidak semua perempuan dapat berpikir dan bertindak demikian.

Dalam buku ini beberapa kali disebutkan bahwa Minke adalah lulusan HBS yang mengesankan bahwa HBS adalah gelar pendidikan yang membanggakan, maka saya pun tertarik untuk browsing soal HBS ini. Ternyata memang benar, HBS atau kependekan dari Horgere Burger School adalah sekolah lanjutan tingkat menengah pada zaman Hindia Belanda, serupa dengan SMP dan SMA. Proporsi Pribumi untuk dapat bersekolah di HBS sangat rendah, pada tahun 1900-an (di masa Minke) Pribumi hanya 2% saja dari total siswa HBS, sementara lainnya adalah anak-anak Totok Eropa atau Peranakan. HBS di Hindia Belanda dirancang sama dengan HBS di Belanda sehingga standar kurikulumnya tinggi dan ketat. Karena tuntutan kurikulum yang tinggi tersebut, maka tingkat kelulusan sampai mendapatkan ijazah HBS hanya 25% dari total siswa. Di HBS para siswanya wajib lulus pelajaran 4 bahasa: Belanda, Jerman, Inggris dan Perancis. Pantas saja dalam buku Minke diceritakan bisa bicara, membaca dan menulis dengan berbagai bahasa tersebut.

Ada satu lagi hal menarik yang beredar di kalangan pembaca Pram, yaitu bahwa sosok Minke dalam buku ini terinspirasi dari tokoh nyata bernama Raden Mas Tirto Adi Suryo. Seorang pelopor pergerakan Indonesia dan tokoh pers nasional, yang sempat terlupakan oleh masyarakat kita. 

Lewat buku ini, Pramoedya Ananta Toer sekali lagi membuktikan kebesaran namanya sebagai seorang sastrawan Indonesia, yang menulis karya besar justru ketika menjadi tawanan politik di Pulau Buru. Karena kekhawatiran bahwa dia takkan bisa keluar dari pulau itu hidup-hidup, dan kecemasan bahwa cerita ini akan terkubur bersamanya tanpa sempat dituliskan, maka Pram mulai menuturkan kisah ini secara lisan kepada rekan sesama tawanan di pulau tersebut. Ketika akhirnya Pram berhasil menuliskan cerita ini dan pada tahun 1980 menerbitkannya, hanya berselang beberapa bulan sejak penerbitan, buku tersebut dicekal dan dilarang beredar oleh Jaksa Agung pada masa itu. Baru 20 tahun kemudian, buku ini kembali diterbitkan dan beredar di Indonesia.

Saya pribadi sangat menikmati dan merekomendasikan buku ini. Setidak-tidaknya sekali kita perlu membaca buku-buku yang sarat nilai kebangsaan seperti ini, sebagaimana mengutip kalimat Philip Vermonte dalam artikelnya tentang Pram, "Agar kita tidak menjadi angkatan muda yang mati rasa justru di era ketika penguasa hampir tidak mungkin lagi memasung dan memenjara pikiran anak bangsanya sendiri."

Untuk buku ini, sumbangan Indonesia untuk dunia, saya memberikan lima bintang.

Review ini diikutkan dalam kategori Once Upon A Time :




post signature

Monday, January 27, 2014

Lucky No.14 Reading Challenge [Master Post]

Oke. Saya jadi keranjingan blogwalking terutama setelah ikutan New Authors Reading Challenge 2014 ke teman-teman sesama blogger buku yang ternyataaaaaa...bertebaran di dunia maya ini dan buanyaaak yang keren-keren. Ya ampun, kemana aja saya selama ini yaa.. *tepok jidat*

Walaupun saya adalah blogger buku kemarin sore, asli bener-bener kemarin sore karena publish blog ini juga baru kemarin sore (tuh postingannya aja masih bisa diitung pake jari tangan :D), tapi sebagaimana pernah saya bilang duluuu *lupa di postingan yang mana* *halah* sebenernya saya ini punya hobi baca dari sejak masih krucil. Hobi yang sempat beralih dari buku atau novel ke majalah. Jadi ada juga masa-masa yang cukup lama di mana bacanya cuma majalah, sampai stok majalah bekas menumpuk di gudang. Hingga akhirnya tobat, dan balik ke buku / novel lagi. :D

Oke. Sampai mana kita tadi?

Nah, setelah beberapa hari ini blogwalking ke teman-teman blogger buku, salah satunya ke blognya Riri @ My Heaven of Books, akhirnya nemu postingan Reading Challenge (RC) ribet ini. Ribet, karena RC ini punya 14 kategori yang berbeda satu sama lain. Tapi dengan banyaknya kategori itu, justru jadi seru. Dan ini kesempatan bagus untuk menghabiskan timbunan buku. 

Hah? Timbunan buku?

Iyaaa, walaupun saya blogger buku amatiran, tapi udah suka baca dari dulu, konsekuensinya jadi kalo mampir toko buku pasti ujung-ujungnya keluar toko buku nenteng tas keresek belanjaan. Nah, pas hobi baca-baci itu beralih ke majalah selama beberapa waktu, buku-buku yang udah kadung dibeli jadi nggak kebaca. Sayang kaaaan...  

Mumpung ada RC ini, kesempatan nih buat "maksa" ngabisin timbunan buku yang walaupun nggak banyak-banyak amat, tapi lumayan lah. :D

Kali ini namanya Lucky No.14 Reading Challenge yang di-host sama Mbak Astrid. RC ini meminta kita untuk membaca 14 buku (atau lebih) dari 14 kategori berikut ini :

1. Visit The Country: Read a book that has setting in a country that you really want to visit in real life. Make sure the setting has a big role in the book and it can make you know a little bit more about your dream destination. 
--> Shopaholic Takes Manhattan. Ini ga tau dah buku jaman kapan, namanya juga ngubek-ubek timbunan. :D Kali aja habis baca dan ngereview ini buku, tau-tau ada biro perjalanan yang nawarin saya jadi duta buku ke New York. *ngarep*



2. Cover Lust: Pick a book from your shelf that you bought because you fell in love with the cover. Is the content as good as the cover?
--> Sebenernya buku The Chocolate Thief tempo hari cocok untuk ini, karena alasan beli pertama karena sampulnya, tapi kan udah dibaca ya. Bukan challenge lagi dong namanya. Baiklah, kalau begitu kesempatan buat beli yang baru. Kan, ada alasannya, biar punya buku untuk kategori nomor dua. *ngeles*

--> Update: Akhirnya dapat juga buku kategori ini. Saya membeli buku ini karena tertarik pada kavernya, yang manis sekali menurut saya. Summer of Love yang ditulis Katie Fforde, semoga menjadi cerita musim panas yang sehangat dan semanis kavernya. :)



3. Blame it on Bloggers: Read a book because you’ve read the sparkling reviews from other bloggers. Don’t forget to mention the blogger’s names too! --> Melbourne : Rewind. Buku ini saya beli pas iseng lewat Gramedia, ujug-ujug inget bahwa ini buku udah beberapa kali nongol di blog teman-teman, salah satunya Dinoy's Books Review dan konon kabarnya lumayan bagus. Jadi beli daaah... :D




4. Bargain All The Way: Ever buying a book because it’s so cheap you don’t really care about the content? Now it’s time to open the book and find out whether it’s really worth your cents.
--> Jemima J. Beli murah di toko buku bekas depan Stasiun Bogor seharga sepuluh ribu perak saja. :D




5. (Not So) Fresh From the Oven: Do you remember you bought/got a new released book last year but never had a chance to read it? Dig it from your pile and bring back the 2013.
--> Pulang. Pemenang Khatulistiwa Literary Award 2013 ini saya beli tahun lalu, namun belum sempat saya baca. Mungkin memang harus menunggu RC seperti ini untuk membacanya. ;)



6. First Letter’s Rule: Read a book which title begins with the same letter as your name (for me, Astrid means A, and I can read anything that started with the letter A). Remember: Articles like “a”, “an” or “the” doesn’t count :D
--> Ini, juga belum punya. Di timbunan nggak ada yang sesuai.

7. Once Upon a Time: Choose a book that’s been published for the first time before you were born (not necessarily has to be a classic book, just something a little bit older than you is okay. You can read the most recent edition if you want to)
--> Anak Semua Bangsa. Terbitan pertamanya sedikiiiit lebih tua daripada saya. Kemudian dilarang beredar selama bertahun-tahun, dan kini diterbitkan kembali. Bagian dari Tetralogi Buru dan juga bagian dari timbunan buku. :D



8. Chunky Brick: Take a deep breath, and read a book that has more than 500 pages. Yep, the one that you’ve always been afraid of!
--> The Girl with the Dragon Tattoo. It has 538 pages, in english edition. Bagus. Gak kebayang bakalan berapa luammaa baca ini. Modalnya cuman satu waktu beli, nekaaattt..



9.  Favorite Author: You like their books, but there are too many titles. This is your chance, choose a book that’s been written by your fave author but you haven’t got time to read it before.
--> Jejak Langkah. Bagian ketiga dari Tetralogi Buru. Lah, Buru lagi? Hehehe.. Namanya juga ngubek-ubek timbunan buku dan dipas-pasin. Tapi memang kok, Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu penulis favorit-sepanjang-masa saya. :)



10. It’s Been There Forever: Pick up a book that has been there on your shelf for more than a year, clean up the dust and start to read it now :D
--> Hafalan Shalat Delisa. Bukunya sampai kuning karena udah lama banget digeletakin begitu aja. :D


 
11. Movies vs Books: You’ve seen the movie adaptation (or planned to see it soon) but never had time to read the book. It’s time to read it now, so you can compare the book vs the movie.
--> Mmm.... yang ini belum ada. Kenapa gak kita beli aja sekarang? *tsaah* *kibas*

12. Freebies Time: What’s the LAST free book you’ve got? Whether it’s from giveaway, a birthday gift or a surprise from someone special, don’t hold back any longer. Open the book and start reading it now :D
--> Ini kategori tanpa harapan. Ada gitu yang mau ngasi buku gratisan ke saya? *duduk manis ngarep*

13. Not My Cup of Tea: Reach out to a genre that you’ve never tried (or probably just disliked) before. Whether it’s a romance, horror or non fiction, maybe you will find a hidden gem!
--> I Shall Not Hate. Buku yang bercerita tentang perjalanan seorang dokter di Gaza ini adalah buku dokumenter non fiksi, yang bukan genre saya sekali. Saya penggemar fiksi dan juaraang menyentuh buku-buku non fiksi. Jadi, mari kita coba seperti apa rasanya. :D



14. Walking Down The Memory Lane: Ever had a book that you loved so much as a kid? Or a book that you wish you could read when you were just a child? Grab it now and prepare for a wonderful journey to the past :D Comic books or graphic novels are allowed!
--> Belom ada jugaaa.. favorit masa kecil sih ada, banyak. Cuma bukunya yang saat ini gak ada. :D 


Wuih, gak terasa, tau-tau semua buku timbunan udah masuk masing-masing kategori ya? Tinggal realisasinya. :D :D :D

Dan dengan ini juga maka Goodreads Reading Challenge saya upgrade ke 14 buku, sesuai jumlah buku minimal dalam RC ini.

So, as Mbak Astrid say, let’s start this wonderful 2014 and get ready to tackle some great books! Yo-ho.


post signature