Monday, September 29, 2014

Book Review : The Bliss Bakery Trilogy #1 : Bliss




Judul : The Bliss Bakery Trilogy #1 : Bliss
Pengarang : Kathryn Littlewood  
Bahasa : Indonesia  
Penerbit : Noura Books  
Tebal : 308 halaman
Diterbitkan pertama kali : 2012  

Format : Paperback  
Target : Remaja
Genre : Food Fiction


Ketika musim panas pada ulang tahunnya yang kesepuluh, Rosemary Bliss melihat ibunya mengaduk halilintar ke dalam semangkuk adonan dan mengetahui - dengan seyakin-yakinnya - bahwa orangtuanya menggunakan sihir di toko roti Bliss.

Buku ini tentang?
Cerita keluarga Bliss, Albert dan Purdy Bliss beserta keempat anak mereka : Thyme Bliss (Ty, anak lelaki sulung yang tampan dan menawan), Rosemary Bliss (Rose, anak perempuan satu-satunya yang selalu menjadi satu-satunya anak yang peduli pada toko roti orangtuanya), Sage Bliss (Sage, adik laki-laki yang lucu dan pandai melawak), serta Parsley (Leigh, si bungsu perempuan yang imut). 

Keluarga Bliss adalah pemilik toko roti Bliss di Calamity Falls. Walaupun kecil, toko roti Bliss selalu ramai dikunjungi para penduduk Calamity Falls yang mengantri membeli kue-kue yang dijajakan sedari pagi. Di balik kelezatan kue dan tampilannya sebagai toko roti kecil "biasa", Albert dan Purdy Bliss menyimpan rahasia besar, mereka menggunakan sihir dalam resep-resepnya. Kue-kue dengan resep yang menggunakan bahan-bahan aneh dalam adonannya seperti nyanyian burung bul-bul, kuapan musang, ekor awan, bahkan halilintar. Kue-kue "aneh" tersebut digunakan pasangan Bliss secara diam-diam untuk membereskan berbagai bencana baik besar maupun kecil di Calamity Falls. Semua rahasia resep sihir tersebut tersimpan aman dalam buku Bliss Cookery Booke yang dijaga baik-baik oleh keluarga Bliss turun-temurun.

Pada suatu hari, Albert dan Purdy harus pergi ke kota Humbleton untuk membantu walikota Humbleton memberantas penyakit flu musim panas yang menjadi wabah di kota - dengan bantuan kue-kue Bliss. Albert dan Purdy terpaksa meninggalkan anak-anak mereka untuk sementara. Sebelum pergi, Albert dan Purdy mempercayakan kunci tempat penyimpanan Bliss Cookery Booke kepada Rose.

Tak lama setelah orangtua Bliss pergi, muncul wanita misterius yang mengaku sebagai Lily, bibi mereka. Lily meyakinkan anak-anak Bliss bahwa ia adalah bagian keluarga Bliss dengan menunjukkan tanda lahir berbentuk sendok sup - yang secara ajaib memang dimiliki turun-temurun oleh setiap anggota keluarga Bliss. Lily yang cantik memesona, baik hati, dan selalu cakap, segera memikat Ty dan Sage. Namun Rose selalu merasa curiga ada yang tak beres dengan bibinya tersebut. 

Masalah kemudian datang silih berganti ketika Rose, Ty, dan Sage mulai mempraktikkan resep-resep kue sihir yang ada dalam Bliss Cookery Booke. Kue-kue sihir mereka mulai mendatangkan berbagai kekacauan di kota yang makin lama makin tak terkendali! 

Rose mulai bimbang apakah mereka harus meminta bantuan bibi Lily untuk membereskan masalah tersebut - yang berarti sekaligus menunjukkan padanya bahwa mereka memiliki Bliss Cookery Booke, atau tetap diam dan melihat bencana melanda seisi kota. Apalagi, Rose merasa, bibi Lily ingin menguasai Bliss Cookery Booke!

Mengapa memilih buku ini?
Well, yang pertama karena sampulnya, yang kedua karena judulnya. Sampulnya bagus banget, bergambar toko roti kecil yang gemerlap. Ditambah lagi judulnya, kelihatan jelas kalau ini adalah food fiction, dan saya penggemar food fiction. :D Baru lihat sampul dan baca judul saja sudah berasa lapar.

Kemudian karena sinopsis di belakangnya menunjukkan bahwa ini adalah toko roti dengan tambahan sihir di dalamnya, saya jadi tambah penasaran, jadilah masuk keranjang belanja. :D

Hal yang disukai dari buku ini?
Resep-resepnya :D. Walaupun aneh, resep kue tetaplah resep kue. Karena hasilnya dideskripsikan "cantik", jadi ya walaupun resepnya aneh, tetaplah membuat pembacanya lapar, haha. :D

Saya menyukai bagian di mana Bliss bersaudara akhirnya dapat bekerja bersama untuk membereskan masalah mereka (walaupun melibatkan bibi Lily juga). 

Saya juga menyukai hubungan antara Ty dan Rose yang - walaupun Rose merasa orangtua (dan orang lain) lebih menyayangi abangnya yang tampan dibandingkan dirinya yang biasa-biasa saja - Ty menunjukkan bahwa dia sebenarnya cukup perhatian kepada saudarinya, sampai-sampai punya panggilan sayang, mi hermana (saudariku, dalam bahasa Spanyol). Dalam banyak hal mereka berdua saling membantu, tidak seperti hubungan kakak-adik di beberapa fiksi remaja yang seringkali digambarkan sebagai pesaing dan saling membenci satu sama lain.

Hal yang kurang disukai dari buku ini?
Ini sebenarnya lebih pas digolongkan ke dalam teen food fiction, jadi pas untuk bacaan anak yang beranjak remaja, ceritanya ringan dan ABG banget, seperti Rose yang merasa diabaikan dan kurang disayang dibanding saudara-saudaranya. Untuk saya pribadi, alur ceritanya simpel dan gampang ketebak, sehingga bacanya flat aja, kurang menggebu-gebu karena ya itu tadi, kayanya sudah tahu ujungnya bakal bagaimana. 

Karakter favorit:
Saya tidak punya karakter favorit khusus. Setiap karakter memiliki sisi baik dan buruknya masing-masing, berimbang. Tidak ada yang benar-benar baik maupun benar-benar jahat. Bahkan bibi Lily pun punya banyak hal baik di samping hal buruk.  

Quote favorit:
Ada sebuah keajaiban di antara kedua sejoli itu, saat sinar jingga matahari terbenam melintasi pepohonan, tapi keajaiban itu tak ada hubungannya dengan mantra atau stoples. Yang ada hanyalah keajaiban dalam diri seseorang untuk mau berubah, berkembang, dan menyembuhkan diri, tanpa bantuan sihir sama sekali.

Berapa bintang?
Ceritanya ringan dan alurnya sederhana. Bagi saya agak sedikit membosankan, tapi cocok dihadiahkan untuk sepupu atau keponakan yang baru beranjak remaja. Untuk buku ini saya memberikan rating : tiga bintang.



post signature

Tuesday, September 23, 2014

Book Review : A Perfect Proposal

 
Judul : A Perfect Proposal
Pengarang : Katie Fforde
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal : 413 halaman
Diterbitkan pertama kali : 2011
Format : Paperback
Target : Dewasa
Genre : Romance
 
 
 
Hidup Sophie akan berubah selamanya...
 
Buku ini tentang? 
Kisah seorang gadis muda Inggris, Sophie Apperly, yang tumbuh sebagai anak bungsu di keluarga akademisi (ayah, ibu dan kakak-kakaknya), dan menjadi satu-satunya anggota keluarga non akademisi (bahkan tidak kuliah). Kecintaan Sophie bukan pada bidang akademis melainkan pada jahit-menjahit, merombak pakaian loak, mendandani barang lama menjadi seperti baru, pokoknya pada hal-hal yang oleh keluarga besarnya dianggap tak berguna.

Karena profesi sebagai akademisi tak mendatangkan banyak uang, maka keluarga Sophie hidup pas-pasan (nyaris miskin) walaupun mereka tinggal dalam rumah besar. Dalam buku ini dituturkan kisah Sophie yang "diumpankan" keluarganya untuk mengurus seorang kerabat (Paman Eric) yang kaya raya, tua, tak menikah dan tak memiliki ahli waris, dengan demikian keluarganya berharap agar mereka bisa mendapatkan warisan melalui Sophie. Sophie yang tulus dan periang segera membuat Paman Eric jatuh hati (walaupun tetap pelit padanya) dan menceritakan soal hak-hak pengeboran yang dimiliki keluarga mereka dari jaman dahulu namun kini terpecah belah karena tidak ada yang berusaha mengumpulkan hak-hak itu. Paman Eric menceritakan tentang kerabat yang menjadi kunci pengumpulan hak-hak itu saat ini ada di Amerika.

Pada saat yang bersamaan, Sophie mendapatkan pekerjaan di Amerika melalui sahabatnya Milly yang tinggal di New York. Pekerjaan sebagai nanny (yang dikecam keras oleh keluarga besarnya), namun Sophie berharap pekerjaan itu bisa membuatnya mencari tahu tentang kerabat di Amerika yang mengumpulkan hak-hak pengeboran.

Tanpa diduga, setibanya di Amerika keluarga yang akan mempekerjakannya tiba-tiba membatalkan secara sepihak. Akibatnya Sophie jadi luntang-lantung tanpa pekerjaan jelas dan hanya menumpang di apartemen Milly. Pada suatu momen ketika Sophie mengikuti pameran di tempat kerja Milly, Sophie bertemu dengan Matilda, seorang nenek kaya raya yang berasal Inggris dan cucu pengacaranya yang angkuh, Luke.

Matilda dengan segera jatuh hati pada Sophie yang tulus dan ceria (dan asal Inggris!), sementara Luke penuh prasangka dan curiga bahwa Sophie hanya akan memanfaatkan neneknya dan harta bendanya. Matilda kemudian mengundang Sophie ke rumah mewahnya di Connecticut untuk merayakan Thanksgiving bersama keluarganya, dan cerita pun bergulir di seputar lika-liku komedi romansa antara Sophie, gadis periang, gigih, dan super pengiritan (karena miskin) dan Luke yang menawan, angkuh, kaya raya dan tak pernah memusingkan soal uang.

Mengapa memilih buku ini?
A Perfect Proposal adalah buku Katie Fforde kedua yang saya baca setelah Summer of Love. Cerita khas Katie Fforde yang ringan, ceria dan khas chicklit, cocok dijadikan bacaan ringan sambil duduk santai di sofa dan ngemil, jenis bacaan yang bisa dibaca sambil lalu dan tidak perlu berpikir keras :D. Buat saya ini jalan keluar yang manis setelah a hectic week at work. Soalnya kalau habis melalui minggu yang penuh perjuangan trus diakhiri dengan buku-buku Pramoedya Ananta Toer, misalnya, rasanya bisa bikin kram otak. :D

Hal yang disukai dari buku ini?
Ringan, manis dan menyenangkan untuk teman bersantai. And it always have a happy ending. Tokoh-tokoh utamanya khas chicklit, muda, modern, dan masa kini, terasa dekat dengan dengan kehidupan sehari-hari.

Saya menyukai bagian dimana dompet Luke hilang di Inggris dan dia terpaksa hidup menumpang sepenuhnya pada Sophie yang selalu kekurangan uang. Luke terpaksa mengikuti gaya hidup Sophie yang super irit, berdesakan naik kendaraan umum kemana-mana, makan fish and chips melempem dan roti bekal yang dibawa dari rumah, serta (yang paling parah) memakai pakaian yang dibeli di toko loak. :D

Hal yang kurang disukai dari buku ini?
Tipikal ceritanya tidak terlalu berbeda novel Katie Fforde sebelumnya yang nyiklit banget. Kalau anda adalah penggemar cerita dengan alur yang bervariatif, anda akan lekas bosan membaca buku ini. Kemudian ada beberapa konten mengenai hak-hak pengeboran yang lumayan berat dan tidak dijelaskan secara detail sehingga saya juga tidak terlalu paham menangkap maksudnya. Mungkin kurang lebih maksudnya adalah warisan hak sebagai pemilik tanah yang di bawahnya terdapat berliter-liter galon minyak bumi siap dibor, tapi karena tidak dijelaskan lebih lanjut jadi ya tema hak-hak pengeboran itu hanya sekedar sambil lalu saja. Intinya Sophie berjuang untuk memperoleh hak-hak pengeboran itu, dia berhasil mendapatkannya (dengan bantuan banyak pihak, terutama Luke tentunya!) dan sebagai imbalannya dia menjadi kaya raya, sumber minyak bumi gitu loh.

Ada lagi bagian dimana Sophie dan Luke berselisih paham karena Ali (karyawan Luke yang cantik, elegan dan sempurna dan bersikap seolah-olah dia pacar Luke), bahkan Ali menggelapkan uang yang dikirim Sophie untuk membayar jasa profesional Luke, namun tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana nasib Ali selanjutnya setelah Luke menyadari hal tersebut. Sebagai pembenci tokoh antagonis :D kan ingin rasanya melihat bagaimana Luke mendamprat atau bahkan mengusir Ali dan membuatnya patah hati mutlak setelah sempat memporakporandakan hidup Sophie. :D

Karakter favorit:
Sophie Apperly. Sifatnya yang tulus, periang dan jago pengiritan, serta kesukaannya menjahit dan merombak barang lama menjadi baru (secara saya sendiri juga suka hal-hal yang berbau handmade).

Berapa bintang:
Ceritanya ringan, cukup menghibur, cocok dijadikan bacaan wiken yang santai dan bisa dibaca sambil lalu. Saya cukup menikmati buku ini dan memberikan rating tiga setengah bintang.

post signature

Saturday, March 8, 2014

Book Review : Summer of Love







Judul : Summer of Love 
Pengarang : Katie Fforde
 Bahasa : Indonesia 
Penerbit : Elex Media Komputindo  
Tebal : 498 halaman  
Diterbitkan pertama kali : 2011 
Format : Paperback 
Target : Dewasa
Genre : Romance

 
Siapa yang tahu apa saja yang bisa terjadi di musim panas yang penuh cinta?

Buku ini tentang?  
Summer of Love bercerita tentang Sian Bishop, ibu muda dengan seorang anak lelaki, orang tua tunggal, yang meninggalkan keramaian London untuk pindah ke sebuah desa kecil yang indah. Di desa tersebut Sian menemukan kehidupan yang menyenangkan untuknya dan putranya, sebuah rumah cantik untuk disewa dengan harga yang terjangkau, sekolah yang bagus untuk putranya, pekerjaan dan sahabat baru yang disukainya : Fiona Matcham.

Sampai pada suatu sore sebuah topan mengguncangkan kehidupan Sian yang damai, Gus Berresford yang tiba-tiba muncul di hadapannya setelah bertahun-tahun seolah lenyap ditelan bumi. Hidup Sian pun seperti jungkir balik, sebagaimana hatinya, mengetahui bahwa ia masih mencintai laki-laki itu setelah sekian lama berlalu. Kedatangan Gus membawa berbagai masalah bagi Sian, yang harus dihadapi dan diselesaikannya, walaupun ia tak tahu bagaimana caranya.

Mengapa memilih buku ini?
Ini adalah buku Katie Fforde pertama yang saya baca. Saya membeli karena tertarik dengan kavernya dan beberapa komentar di bagian belakang buku. Waktu itu saya memang mencari bacaan ringan yang menyenangkan, setelah sebelumnya menyelesaikan buku yang temanya lumayan berat.

Hal yang disukai dari buku ini?
Summer of Love berkisah tentang kisah cinta yang hangat dan romantis, dan berakhir bahagia. Saya menikmati ceritanya yang ringan, yang berkisah tentang kehidupan Sian yang teratur sebagai seorang ibu muda (sedikit mirip dengan kehidupan saya sebagai ibu dari seorang putri, walaupun saya bukan orang tua tunggal).

Buku ini banyak memasukkan hal-hal yang berhubungan dengan memasak dan makanan, yang mana keduanya adalah hal yang saya sukai sehingga saya menikmati semua paragraf yang berhubungan dengan kedua hal tersebut. :D Saya sampai membayangkan bagaimana rasanya mengadakan pesta makan malam dan mengorganisir piknik.

Saya juga menyukai hal-hal tentang kemping dan "bertahan hidup di dunia luar" yang banyak ditunjukkan Gus di sini, di antaranya menunjukkan bagaimana caranya membuat api.

Saya juga menyukai bagian cerita tentang Fiona Matcham, terutama setelah dia menyadari kebodohannya dan memilih orang yang tepat untuk berkencan.

Hal yang kurang disukai dari buku ini?
Alurnya berjalan lambat dan cenderung datar dengan cerita seputar kehidupan Sian dan Fiona. Tapi saya rasa memang rata-rata buku romance comedy / chicklit ditulis dengan cara demikian, karena pembacanya memang mencari bacaan ringan yang tidak menguras energi pikiran saat membacanya.

Karakter favorit:
Fiona Matcham. Fiona adalah seorang wanita yang saya perkirakan berusia 50-an namun berjiwa muda, agak eksentrik, percaya diri dan cenderung bicara dengan spontan. Fiona yang telah berpisah dari suami keduanya dan memiliki anak-anak yang telah tumbuh dewasa, dikisahkan ingin merasakan kembali romantisme cinta. Secara tidak sengaja kesempatan untuk itu terbuka ketika seorang sahabat lamanya mendaftarkannya ke situs kencan internet. Dan mulailah Fiona menjalani dari satu kencan ke kencan yang lain, kemudian di antaranya menemukan seseorang yang tidak diduganya ternyata mampu memberikan apa yang diinginkannya.

Saya menyukai cara berpikir Fiona yang blak-blakan, sikapnya yang terbuka, gayanya yang muda, kepandaiannya memasak (terbukti dengan pesta makan malam yang mengagumkan!) dan kasih sayangnya pada Sian dan putranya. Dialog-dialog Fiona meskipun blak-blakan dan sarat humor namun menunjukkan bahwa apa yang dipikirkannya sebenarnya adalah hal-hal yang baik untuk orang-orang yang dia cintai. Di akhir cerita, Fiona-lah yang membukakan mata Sian dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki hidupnya.

Karakter yang kurang disukai:
Melissa Lewis-Jones. Gadis cantik super kaya yang tampak seperti model katalog gaun Boden dan menaruh minat pada Gus. Klasik sih, penggambaran karakter antagonis saingan tokoh utama seperti ini umum dijumpai di cerita-cerita dengan genre romance. Melissa yang manja dan keras kepala, yang selalu harus dipenuhi semua keinginannya. Hal yang paling membuat sebal adalah ketika Melissa memaksa membeli rumah yang disewa Sian karena ia telah jatuh hati pada pondok itu dan ingin tinggal di situ.

Walaupun begitu, secara keseluruhan sebenarnya Melissa tidak seburuk itu. Ia tidak pernah memusuhi Sian. Tukang pamer memang iya, tapi ia tidak menganggap Sian sebagai orang yang menyebalkan, walaupun Sian menganggapnya demikian terutama karena persoalan Gus. Melissa justru mencarikan pekerjaan untuk Sian melalui orang tuanya dan tanpa Sian sadari telah memberikan bantuan yang sangat penting bagi Gus.

Kurang adil juga menaruhnya di tempat karakter yang kurang disukai lantaran saya tidak terlalu gak-suka-suka-amat :D tapi karena di antara karakter-karakter lain dialah yang paling bertingkah menyebalkan, ya apa boleh buat. Tapi di akhir cerita, saya rasa saya mulai menyukainya. :)

Buku ini direkomendasikan bagi:
Jika anda mencari bacaan ringan yang menghibur, untuk teman bergelung di sofa atau sambil ngemil, tentang kisah cinta manis yang berakhir bahagia, ini adalah buku yang dapat anda pilih.

Jika anda adalah seorang penggemar cerita yang beralur dinamis atau cerita yang menuturkan alur dan konflik dengan lebih dalam, bisa jadi anda merasa cepat bosan membaca buku ini.

Berapa bintang:
Karena saya memang mencari bacaan ringan yang menghibur, maka buku ini cukup memenuhi keinginan. Setelah menyelesaikan buku ini sepertinya saya akan mencari buku Katie Fforde yang lain. Saya cukup menikmati tulisannya dalam Summer of Love ini dan memberikan rating tiga setengah bintang. :)

Review ini diikutkan dalam kategori Cover Lust :


http://perpuskecil.wordpress.com/2013/11/12/lucky-no-14-reading-challenge/


Dan diikutkan pula dalam New Authors Reading Challenge :


http://renslittlecorner.blogspot.com/2014/01/new-authors-reading-challenge-2014.html

post signature

Saturday, March 1, 2014

January & February Update : New Author Reading Challenge 2014

Ah, tak terasa sudah dua bulan berlalu di tahun 2014 ya, dan ini sudah masuk bulan ketiga. Selamat bulan Maret untuk semuanya, semoga menjadi bulan yang menyenangkan dan bermanfaat bagi kita semua. :)

Tahun 2014 ini adalah tahun dengan banyak hal-hal baru bagi saya, salah satu di antaranya adalah lahirnya blog ini, blog khusus tentang buku-buku yang saya baca. Sebagaimana telah saya tulis sebelumnya, di tahun ini saya kembali menggiatkan hobi lama yaitu membaca buku dan bergabung dengan beberapa Reading Challenge (RC).

Salah satu reading challenge yang saya ikuti adalah New Author Reading Challenge yang dihost oleh Ren. Dalam RC ini, para partisipan diminta mengupdate progress RC-nya setiap dua bulan, yang jatuh pada bulan Februari. Jadi, saya akan posting update progress saya di RC ini.

Sepanjang bulan Januari saya menyelesaikan dua buku untuk RC ini, yaitu :
The Kitchen House (Kathleen Grissom/2010), reviewnya ada di sini.
The Chocolate Thief (Laura Florand/2013), reviewnya ada di sini.

Sedangkan untuk bulan Februari saya tidak menyelesaikan buku untuk RC ini. Ada sih buku yang selesai dibaca dan direview, tapi karena bukan New Author jadi tidak memenuhi syarat untuk RC ini.

Sekian dulu update progress Januari dan Februari, terima kasih untuk Ren yang sudah berbaik hati menjadi host RC yang memotivasi ini. Semoga ke depan saya bisa membaca lebih banyak lagi buku untuk kategori New Author Reading Challenge. :)



post signature

Monday, February 24, 2014

Book Review : Anak Semua Bangsa

 
Judul : Anak Semua Bangsa 
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer 
Bahasa : Indonesia 
Penerbit : Lentera Dipantara 
Tebal : 536 halaman
 Diterbitkan pertama kali : 1980 (Hasta Mitra) 
Format : Paperback 
Target : Dewasa 
Genre : Roman sejarah

"Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Di mana pun ada yang mulia dan jahat. Kau sudah lupa kiranya, Nak, yang kolonial selalu iblis. Tak ada yang kolonial pernah mengindahkan kepentingan bangsamu."

Anak Semua Bangsa, adalah roman kedua dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Tidaklah berlebihan rasanya bila penerbit Lentera Dipantara menyatakannya sebagai Sumbangan Indonesia untuk Dunia.

Ketiga roman pertama Tetralogi Buru (termasuk Anak Semua Bangsa) menempatkan Minke, seorang Pribumi terpelajar lulusan HBS sebagai tokoh utama. Minke adalah gambaran pemuda Pribumi yang selalu dilanda kegelisahan akan nasib bangsanya sebagai bangsa jajahan, kegelisahan yang dilandasi nurani kemanusiaan yang pada akhirnya menjadi landasan berpikir dan bertindak: karena dan untuk bangsanya.

Kalau roman bagian pertama, Bumi Manusia, merupakan periode penyemaian dan kegelisahan, maka roman bagian kedua ini, Anak Semua Bangsa, adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah Pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa. Dalam Anak Semua Bangsa, Minke dihadapkan antara kekaguman pada peradaban Eropa dan kenyataan di lingkungan bangsanya yang kerdil. Sejak kedatangan Khouw Ah Soe seorang aktivis pergerakan Tionghoa, surat-surat keluarga De la Croix, teman Eropanya yang liberal, dan khotbah politik Nyai Ontosoroh, mertua sekaligus guru agungnya, kesadaran Minke tergugat, tergurah, dan tergugah. (Lentera Dipantara)

Roman ini sarat akan pesan dan pengajaran tentang nasionalisme dan humanisme, terutama tentang kepedulian dan kecintaan terhadap bangsa sendiri. Berlatar belakang Indonesia di akhir abad 19, setting dibangun dengan gambaran yang detail baik dari latar cerita, kebiasaan, maupun budaya dan pola pikir pada zaman tersebut. Indonesia, yang dalam buku ini disebut sebagai Hindia Belanda, diceritakan masih dalam masa kolonialisme sebagai bangsa terjajah. Pribumi terutama golongan lemah adalah pihak yang paling tidak berdaya menghadapi dua penjajahan sekaligus, yakni penjajahan dari Belanda kolonial dan penjajahan dari raja-raja Pribumi sendiri yang dalam masa itu berada di bawah lambang Bupati, Pangreh Praja dan aparat-aparat pemerintahan tradisional Jawa lainnya.

Minke pasca kepergian Annelies istrinya, dalam buku ini dikisahkan mulai berusaha turun gunung untuk mengenal bangsanya. Tuduhan sahabat-sahabatnya bahwa Minke tak mengenal bangsa sendiri, karena ia hanya mau menulis dalam Belanda, enggan menulis dalam Melayu, bahasa yang notabene dikuasai oleh sebagian besar bangsanya dibandingkan dengan Belanda yang terbatas penggunanya. 

Minke dalam upayanya turun gunung, kemudian mengenal kehidupan tertindas petani gula yang dalam cerita ini diwujudkan melalui sosok Trunodongso. Petani dengan sawah seluas lima bahu, namun hidup dalam kekurangan dan penindasan karena tanah warisan yang dimilikinya direbut paksa oleh pabrik gula. Pabrik gula dalam kisah ini merupakan perwujudan penguasa dan penjajah baru dalam jaman modern, yaitu deretan angka bernama modal.

Penyaksian diri Minke atas ketidakberdayaan Trunodongso dalam menghadapi rakusnya pabrik gula mencaploki tanah petani, pengetahuannya akan kisah Surati - gadis muda yang dijual ayahnya kepada Belanda penguasa pabrik gula hanya untuk menyelamatkan jabatan sang ayah selaku juru bayar pabrik, surat-suratnya dengan keluarga De la Croix yang brilian, penuh dengan pemikiran jaman baru yang kritis, kemudian perbincangannya bersama Ter Haar, teman Eropa yang liberal dan mengajarkan Minke tentang nasionalisme dan memetik pengalaman dari berbagai bangsa-bangsa dunia. Dan yang terakhir, pelajaran kehidupan dari Nyai Ontosoroh, mertuanya, seorang perempuan Pribumi yang berdiri tegak menentang Eropa dan kolonialismenya dengan segala keberanian, kegigihan, kerja keras, wibawa dan kecerdasannya. 

Semua pemikiran, ketidakberdayaan, dan kegelisahan itu diceritakan sambung-menyambung dari satu guru dan pengalaman ke guru dan pengalaman lainnya, terus menumpahi Minke tanpa memberinya jeda, yang pada akhirnya mengubah pandangan Minke tentang hidup itu sendiri. Sebagaimana dikatakan Kommer, salah seorang sahabatnya, "Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir."

Minke pun mulai menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan dan kegelisahan. Mulai ada sesuatu yang bangkit dari dalam dirinya, nasionalisme dan kemanusiaan yang semakin kuat untuk melawan kekuatan penjajah kolonialisme, yang didasari atas satu alasan : karena dan untuk bangsanya.

Cerita berjalan relatif lambat, karena banyak di antara bagian buku hanya menceritakan pemikiran Minke sendiri. Pemikiran yang mengembara, menemukan informasi, mencerna kemudian memproses menjadi sebuah kesimpulan, di mana bagian ini hanya terjadi dalam kepala Minke, sehingga seolah waktu berhenti untuk beberapa lama karena yang dilakukan pembaca hanya mengikuti alur pikiran Minke dan berusaha untuk memahami. Namun demikian karena tema dan penulisan yang menarik, yang membawa saya tenggelam dalam kalimat-kalimatnya, maka alur yang lambat itu tidak menjadi masalah.

Tokoh favorit saya dalam buku ini, tentu saja, Nyai Ontosoroh. Perempuan pribumi terpelajar yang seorang diri menentang ketidakadilan kulit putih yang menempatkan Pribumi dan bangsa kulit berwarna sebagai warga negara dunia kelas dua. Nyai Ontosoroh adalah guru Minke dalam kehidupan, mengajarkan kepada Minke banyak hal, pendapat, pertimbangan dan sudut pandang yang tidak diperoleh Minke dari orang lain apalagi dari sekolah, dengan begitu maka Nyai Ontosoroh banyak memberikan pengaruh pada Minke. Sosok Nyai Ontosoroh ini diceritakan maju melampaui jamannya, bahkan di jaman sekarang pun tidak semua perempuan dapat berpikir dan bertindak demikian.

Dalam buku ini beberapa kali disebutkan bahwa Minke adalah lulusan HBS yang mengesankan bahwa HBS adalah gelar pendidikan yang membanggakan, maka saya pun tertarik untuk browsing soal HBS ini. Ternyata memang benar, HBS atau kependekan dari Horgere Burger School adalah sekolah lanjutan tingkat menengah pada zaman Hindia Belanda, serupa dengan SMP dan SMA. Proporsi Pribumi untuk dapat bersekolah di HBS sangat rendah, pada tahun 1900-an (di masa Minke) Pribumi hanya 2% saja dari total siswa HBS, sementara lainnya adalah anak-anak Totok Eropa atau Peranakan. HBS di Hindia Belanda dirancang sama dengan HBS di Belanda sehingga standar kurikulumnya tinggi dan ketat. Karena tuntutan kurikulum yang tinggi tersebut, maka tingkat kelulusan sampai mendapatkan ijazah HBS hanya 25% dari total siswa. Di HBS para siswanya wajib lulus pelajaran 4 bahasa: Belanda, Jerman, Inggris dan Perancis. Pantas saja dalam buku Minke diceritakan bisa bicara, membaca dan menulis dengan berbagai bahasa tersebut.

Ada satu lagi hal menarik yang beredar di kalangan pembaca Pram, yaitu bahwa sosok Minke dalam buku ini terinspirasi dari tokoh nyata bernama Raden Mas Tirto Adi Suryo. Seorang pelopor pergerakan Indonesia dan tokoh pers nasional, yang sempat terlupakan oleh masyarakat kita. 

Lewat buku ini, Pramoedya Ananta Toer sekali lagi membuktikan kebesaran namanya sebagai seorang sastrawan Indonesia, yang menulis karya besar justru ketika menjadi tawanan politik di Pulau Buru. Karena kekhawatiran bahwa dia takkan bisa keluar dari pulau itu hidup-hidup, dan kecemasan bahwa cerita ini akan terkubur bersamanya tanpa sempat dituliskan, maka Pram mulai menuturkan kisah ini secara lisan kepada rekan sesama tawanan di pulau tersebut. Ketika akhirnya Pram berhasil menuliskan cerita ini dan pada tahun 1980 menerbitkannya, hanya berselang beberapa bulan sejak penerbitan, buku tersebut dicekal dan dilarang beredar oleh Jaksa Agung pada masa itu. Baru 20 tahun kemudian, buku ini kembali diterbitkan dan beredar di Indonesia.

Saya pribadi sangat menikmati dan merekomendasikan buku ini. Setidak-tidaknya sekali kita perlu membaca buku-buku yang sarat nilai kebangsaan seperti ini, sebagaimana mengutip kalimat Philip Vermonte dalam artikelnya tentang Pram, "Agar kita tidak menjadi angkatan muda yang mati rasa justru di era ketika penguasa hampir tidak mungkin lagi memasung dan memenjara pikiran anak bangsanya sendiri."

Untuk buku ini, sumbangan Indonesia untuk dunia, saya memberikan lima bintang.

Review ini diikutkan dalam kategori Once Upon A Time :




post signature